Good Speaking from Good Spoken

6:54 PM Reporter: Dodik 0 Responses

Polite sound and appropriate manner of speaking from children to parents are invaluable happiness. Though obedience in practice performs different when referring to different local philosophy, somehow it generally contributes to a relative contentment feeling of parents to accept. The puzzle occurs when parents expect the very good respect from the children while the fact doesn’t tell so. To comprehensively discuss about this matter might be a bit complicated. A general form of practical approach could be one of the useful ways to overcome. This simple way is embodied from applying the principle that good speaking is from good spoken from the parents.

Conventional psychologist agreed that verbal expressions are produced originally by the habits derived from the environment. It might be schools, neighbors, and family unquestionably. Apart from indigenous factors of each individual, environments helped shape both conscious and unconscious manner of children. Giving precedence to the main role of family as the first environment line, parents play the significant role model that constitutes the mirror of children.

Regarding with the good speaking attitude, parents are not only to give good examples of what and how to behave graciously. But they have also to become the example itself. They way parents communicate each other will have generated the important way to copy. Quarrels due to daily hitches between parents should be undiscovered no matter what and how. On the contrary, polite expressions, good use of language, as well as persuasive communication are to come first instead.

Given the various characteristics of children, most of parents cannot stand showing good manner at communicating their ideas and teachings to children. Good doctrines were intended. But finally the fact results unexpectedly. Speaking persuasive, polite, and sincere by which parents reveal the deep love and affection is a must. There will be no guarantee that each of children could be handled this way. Somehow, the first domains where they live always exhibit good and noble copies. Hence, it’s not magic when the good speaking our children personify would be set off from the good spoken language parents always give. Why not to give it a try?


Read more...

Memupuk Sikap Anti Korupsi dari Keluarga

9:07 AM Reporter: Dodik 0 Responses
Korupsi bukanlah budaya kita. Perbuatan tidak terpuji tersebut merupakan sebuah kebiasaan yang dilakukan terus menerus. Akibatnya, frekuensi yang begitu intens menjadikan korupsi seolah-olah menjadi bagian integral dari perilaku birokras. Bahkan boleh jadi pelaku organ-organ masyarakat non pemerintah. Dengan begitu, bentuk pembiasaan yang lekat dengan lingkungan yang kurang sehat alias menumbuhkan benih-benih korupsi harus segera di berantas.

Institusi masyarakat terkecil yang sangat potensial berkontribusi terhadap perang melawan korupsi adalah keluarga. Keluarga sebagai tempat dimana generasi Indonesia di gembleng berperan besar. Penanaman nilai-nilai etika dan sekaligus perilaku positif pertama kali dibentuk dalam keluarga. Orang tua yang menjadi pelaku pendidikan si anak, seharusnya mulai menyadari arti penting dari proses pendidikan di dalam keluarga.

Adapun nilai dan sikap dasar yang terkait dengan sikap anti korupsi adalah sikap jujur dan sportif. Tidak hanya dalam bentuk normatif, nilai kejujuran dan sportifitas harus di bangun secara praktis (by doing). Hal tersebut dalam dimulai dengan aktifitas sederhana. Seperti bagaimana menanamkan nilai jujur ketika di berikan sebuah amanah oleh orang tua. Sang anak harus dilatih menunjukkan sikap bertanggung jawab. Berikut arti penting kejujuran dan tanggungjawab tersebut dalam konteks yang lebih luas.

Sikap sportif tidak kalah penting. Jika berangkat dari falsafah bahwa manusia tidak pernah ada yang luput dari kesalahan, berarti individu selalu potensial untuk bersalah. Sikap sportif dalam hal ini berperan sebagai turning point of attitude. Mengakui kesalahan untuk kemudian berkomitmen memperbaiki dengan hal positif harus diterapkan sejak dini. Kalaupun si anak pernah mengambil sebuah barang tanpa izin orang tua, ia haruslah diingatkan dan dijelaskan apa kenapa dan bagaimana. Harapannya, hal tersebut tidak dilakukan lagi.

Selain nilai kejujuran dan sportifitas, yang terkait erat dengan punishment approach ketika terjadi pelanggaran, maka orang tua hendaknya memperhatikan pendekatan reward approach. Bentuk reward (penghargaan) yang dimaksud tidak harus berupa material. Namun boleh jadi dalam bentu pengakuan atas sikap dan perilaku positif, maupun yang lain. Mengatakan, "Ibu bangga punya anak yang jujur dan sporif", dapat begitu bermakna dalam membentuk rasa bangga dalam diri sanga anak.

Memulai sikap anti-korupsi dari keluarga, dapat menjadi pendekatan alternatif dalam membangun bangsa yang bersih dari korupsi. Pemahaman bahwa kita hidup bersama di muka bumi dengan hak dan kewaiban sama, menjadi pendorong bahwa tidak hal dalam hidup yang sifatnya personal. Akan selalu punya konotasi sosial. Kenapa tidak kita mulai sekarang juga?

Read more...

Keluarga Bahagia

10:16 AM Reporter: Dodik 0 Responses

Siapa yang tidak menginginkan sebuah keluarga bahagia. Setiap individu akan selalu mendambakan kebahagiaan keluarga. Meski berbicara mengenai bentuk dan tingkat kebahagiaan yang dimaksud boleh jadi berbeda antar individu. Karena kebahagiaan merupakan bagian penting yang menjadi perhatian manusia yang masih waras.

Keluarga sebagai komunitas masyarakat terkecil, dalam kacamata Sosiologi, adalah tempat pertama proses pembelajaran dan bersosialisasi. Berangkat dari pemahaman ini, peran keluarga sangat besar dalam membentuk pola piker bahkan perilaku individu. Sederhananya, segala hal yang menjadi gambaran objektif individu memiliki keterkaitan relative dengan eksistensi keluarga. Ketika baik kondisi rumah tangga seseorang, relatif berpengaruh terhadap kondisi psikologis anggota keluarga di luaran. Begitu pula sebaliknya.

Langkah apa yang dapat kita lakukan dalam usaha membina sebuah keluarga bahagia? Jawaban atas pertanyaan ini sangat beraneka ragam. Tergantung dari sudut pandang dan falsafah yang kita hendak gunakan sebagai alat penjawab. Namun secara sederhana dan praktis, terdapat setidaknya 2 (dua) macam pendekatan yang dapat diterapkan yakni pendekatan materi dan pendekatan psikologis.

Pendekatan materi, merujuk kepada upaya memenuhi segala kebutuhan yang sifatnya material. Hal in dapat berupa harta, kekayaan, hingga fasilitas rumah tangga. Tidak sedikit sebuah keluarga yang terobsesi untuk menggapai kebahagiaan melalui cara materi. Pastinya bahwa dengan materiatau harta, kebutuhan-kebutuhan yang bersifat fisik secara relative dapat terpenuhi. Kebutuhan keseharian rumah tangga, pendidikan dan kesehatan keluarga, hingga menyentuh ke status dan penerimaan social.


Read more...

Choose Harmony

8:50 PM Reporter: Dodik 0 Responses
Obsession, possession, ego. The three words are the most dangerous and resistant factor when harmony of life is still our destined aim to reach. No gender bias over here. Both men and women are potential to have this kind of preference. Let's just name the three words as 'OPE'.

Few conditions that drive a married man or woman most to have OPE include the dissatisfaction of life someone's undergoing. An expression of not feeling sufficient is really going to influence one's mind on how to behave each other as a couple. When the case came out from external factors, it would be communication that becomes the best to solve. Conversely it unexpectedly happened due to out side matters. Such thing has to be taken into more serious account.

Read more...

Children, Smile up

8:03 PM Reporter: Dodik 0 Responses
It must be pleasing for children to have parents who always love and look after them with no anger but smiles. No matter the children do, parents just get to see them from the very positive way of thinking. This is a simple notion that is presented by Ka Seto, the chairman of National Child Protection Commission. The teaching of love by parents were eloquently put down in his book entitles Anak-Anak Tersenyumlah (Children Smile up).

Smiling as a reflection of friendliness and welcome-manner basically constitutes the very valuable habit to keep it on. Parents are the first men to be responsible in engrossing such good act. As smiles can empower the spirit of interpersonal bound, the touch of affection and love would be better tasted. If smiles become the only color of all activities in dealing with children education, we will find them showing the warm expression of love to us as well.

It's really recommended to stay away from any harsh attitude over the children. Their sensible acceptance and response could grow worse to certain extent that we might be out of knowledge. Harsh attitude does not produce but the similar type of manner afterward. On the contrary friendly and smiling attitude will always contribute the sincere respect building in the mind of children.

Parents are to start smiling first along their days at home especially when dealing with the children. Given this habit, let's teach the children,"Smile up!".

Read more...

Senyuman

8:08 PM Reporter: Dodik 0 Responses

Senyuman adalah sikap sederhana yang amat berarti. Sebagai ekspresi sopan santun sekaligus keramahan, senyuman membawa rasa damai dan keakraban. Bagi rekan kerja kantor, partner bisnis, hingga atasan pun, senyuman dapat menjadi bahasa penghargaan atas keberadaan orang lain. Lepas dari apapun motivasi yang melatarbelakangi. Alangkah bahagianya kehidupan ini jika di setiap sudut tempat dan sendi kemasyarakatan diwarnai selalu oleh senyuman.

Pada dasarnya, setiap anak di usia dini lebih peka terhadapa orang-orang dewasa akan apa yang menarik dan tidak. Senyuman merupakan ekspresi tersederhana dari seorang anak ketika hendak mengatakan bahwa mereka menyukai sesuatu hal. Sebagaimana menangis adalah ungkapan tidak suka ataupun kecewa, senyuman selalu mengiringi hari-hari anak-anak kita, khususnya di masa balita, acap kali melihat tingkah laku unik orang tua maupun kerabat, hingga benda menarik lainnya. Lantas apa yang membuat senyum itu menghilang dari anak-anak dan berubah menjadi sikap masam, jutek, keras, kaku, hingga kemarahan? Hal ini jelas terkait dengan peran orang tua dan keluarga yang menjadi lingkungan kecil dimana sang anak tumbuh dan belajar.

Faktor yang seringkali mempengaruhi pudarnya senyum dari sang anak; pertama, kebiasaan buruk oran tua, dan kedua, lingkungan yang kurang positif. Faktor pertama yakni kebiasaan buruk orang tua ketika sehari-hari mengurus si anak dalam berbagai aktifitas. Menjelang umur 2-3 tahun hampir tiap anak cenderung melakukan aktifitas motorik secara dominan. berbagai macam hal yang dapat mereka indera baik visual maupun auditorial hendak mereka coba lakukan, berikut extra motivasi lain yang menjadi pendorong. Berlari, melompat, melempar adalah sebagai dari sekian hal yang sang anak lakukan. Sikap spontan dari orang tua adalah memperingatkan kepada sang anak dengan nada melarang. Meski boleh jadi hal ini dimaksudkan demi keselamatan dan kebaikan sang anak sendiri. Terlebih lagi jika sikap marah dan berteriak terhadap uang sanga anak yang dilakukan. Lebih parah lagi jelasnya. Langsung maupun tidak, hal tersebut menciptakan kesan negatif bagi si anak yang dikemudian diikuti sikap murung hingga menangis. Dorongan untuk sekedar beraktifitas semata dianggap sebuah kenakalan yang seharusnya dihilangkan. Mutlak perasaan gembira yang beberapa menit sebelumnya dirasakan sang anak spotan berubah menjadi rasa berasalah ataupun sedih.

Yang dapat menjadi solusi dalam menyikapi kecenderungan motorik anak di usia 2-3 tahun adalah dengan berusaha menciptakan kondisi dimana segala aktifitasnya tidak membahayakan keselamatan si anak dan orang lain. Benda-bedan tajam, jenis mainan dengan resiko melukai dan semacamnya harus dihindari. Pun hal tersebut harus terjadi, seyogyanya kita bersikap bijak dengan berusaha mengerti psikolgi sang anak. Membentak dan memarahi jelas bukan pilihan tepat. Memberi nasehat dengan perkataan halus dan lembut sembari diikuti motivasi dan senyuman tulus akan membantu si anak untuk menyadari bahaya atau resiko yang sangat fatal. Tidak hanya itu, mengalihkan perhatian sang anak ke bentuk aktifitas lain yang tidak kalah menarik dan menantang juga sangat penting demi mewadahi rasa ingin tahu dan dorongan motorik si anak. Dengan begitu, secara relative hal yang kita anggap riskan dapat dihindari tanpa mengahalangi sang anak untuk terus belajar.


Read more...

Communication is Important

7:30 PM Reporter: Dodik 0 Responses

Communication is important. As human is naturally born as homo sociologicus that needs to interact each other, communication becomes the very medium to share understanding, values, opinion, and even knowledge. Through communication, people can live together on the same earth as equal human. The absence of communication with others can firmly lead to the disorientation of life due to being the basic need. In another word, the existence of human being can be meaningless without the existence of communication each other.

As a matter of fact the ignorance over the important of communication has resulted a lot of failures to build family peace and harmony. Since communication mediates any given differences between couples, ignoring it will have to bring about some potential problem and even conflicts. What kind of matter which come to serious effect while all married-couples must communicate each other along their pre and after wedding periods?

In this case we have to realize that communication shouldn’t be defined as the exchange of information between people only. It is to be far deeper about how to create two-way communication model. Accordingly, each member of parents, father or mother, has to play as both communicator and communicant as well. When a father becomes a subject of communication for instance, he has to play the role of being a communicant as well. Hence each of parents can be either subject or object at the same moment with the same content of topics. This is what we called as two way communication in general.

Realizing that people cannot be absolutely same and equal in ratio, communication with the principle of sincerity and integrity contribute to the sense of both sympathy and empathy altogether. Both matters are to be consumed by the so-called emotion. Each of parents can pleasingly accept the difference from each other due to the given emotional appeal put first before each personal mind. Eventually everything can be just simply done and handled. In short, none will deny that communication is really important.


Read more...